SUDAH BANYAK LUKA NAMUN MENETAP
Lagi-lagi ini tentang kebingungan. Entah bagian mana dan harus dari mana aku ceritakan tentang seseorang yang sangat aku percayai. Seorang yang aku banggakan, yang aku puja puja di depan banyak orang termasuk kedua orang tua ku. Aku memikirkannya setiap saat di 2 tahun terakhir. Ketika aku berfikir secara logis, Aku bahkan sangat merasa berdosa ketika harus mengesampingkan keluarga, ah tidak. Bahkan diriku sendiri!
Saat ini aku mungkin sangat berpenyakit, iya. Kesulitan tidur, enggan keluar dari ruang, malas berkegiatan, lalu vertigo dan maag ku sering kambuh. Tidak ada ibuku di sini, adiku, atau bapak ku. Begitu jauh, ketika aku sadar ternyata aku menjauh bahkan saat belum benar-benar berpisah sejauh ini. Itulah salah satunya, kenapa aku sangat berdosa. Rasa bersalah yang menghantui ku ketika nalarku berjalan. Rasa takut ketika aku ingat umur orang tuaku tak bisa aku atur, dan jika suatu saat itu terjadi, mungkin aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Bagaimana aku bisa berubah karena seseorang, tak lagi menyempatkan dan ternyata sudah sedikit bergeser dari daftar prioritas.
Ia membuatku semakin rendah diri. Ucapannya yang membuat kepercayaan diriku jatuh, aku katakan sejujurnya nya. Bahkan ketika aku ungkap perasaanku, aku selalu disalahkan. Lalu ia tertawa kecil sebentar, minta maaf ketika aku ingatkan, keesokan harinya ia lakukan lagi. Aku mulai terbiasa atas perlakuannya. Lain cerita, ia meminta sesuatu hal, jika aku enggan, ia marah, diam. Aku tidak suka. Lalu sepersekian detik aku kembali luluh. Menurunkan egoku lagi. Kami membaik. Memperhitungkan apa yang aku tidak minta, apa yang aku makan. Bahkan dari awal aku sangat tahu diri, aku tidak memanfaatkannya. Jika benar, aku sangat loyal terhadapnya. Aku pikir, mungkin ia begitu untuk mengajarkan kepadaku apa itu arti 'secukupnya'. Sekarang aku sadar, akhir akhir ini aku menjadi manusia yang perhitungan bahkan ke diriku sendiri. Aku mengesampingkan diriku, mementingkan orang lain yang tidak sebaiknya terhadapku.
Lain hal, mencubit lengan ku. Membiru bekasnya, untuk menghilangkannya butuh waktu seminggu. Sakit sekali, aku menangis. Ia minta maaf, membujukku agar tidak marah. Aku maafkan, kami kembali baik. Lalu ia ulangi lagi suatu waktu. Aku menyalahkan diriku terus menerus, kepercayaan diriku dihantamnya dengan ucapan yang terus ia keluarkan. Tidak segan segan aku menangis dihadapannya, aku pernah menyayat lengan ku di depan matanya. Orang- orang menganggap kami pasangan yang serasi, aku jawab dengan senyuman. Ada banyak hal yang ternyata selama ini aku tutupi dan aku pendam sendiri. Rasanya seperti orang gila ketika akhir-akhir ini emosi ku meledak. Air mataku sudah sangat kering. Tubuhku kesakitan, jantungku berdebar tapi bukan seperti jatuh cinta lagi. Semoga syaraf ku aman dan baik baik saja.
Aku enggan menjadi yang paling tersakiti. Mungkin dari sudut pandang ceritanya, aku lah yang gila. Sering melukai hatinya tanpa sadar. Entah perilaku atau ucapan. Dan aku sangat paham, ada pikiran darinya untuk menyudahi hubungan ini sejak lama. Aku yang menguncinya rapat rapat saat ia membuka pintu itu dan memutuskan tali, aku sambung lagi secara paksa. Saat ini aku tidak ingin mengikat talinya lagi, aku lepaskan perlahan, pilihan ada di dirinya. Aku pun merasa ikatan kami sangat melelahkan jika dilanjutkan. Kejiwaan ku juga hampir hilang. Semuanya berantakan. Jika bisa di ulang aku akan menjauh dari siapapun.
Sudah hampir 2 tahun aku bertahan di tengah kehampaan, tinggal di negara yang dinamis ini. Waktu yang terasa sangat mahal, bahkan aku jarang mengurus diriku sendiri. Lebih seringnya aku menghindari pertanyaan sederhana, tetapi entah bagaimana itu terasa sangat menganggu ku. "Bagaimana kehidupan mu sekarang?".
•••
Komentar
Posting Komentar